Perempuan Melawan Neoliberalisme

Reggae (Ras Muhammad) dan Perjuangan Kebudayaan

Oleh: RUDI HARTONO

Dengan peralatan seadanya, puluhan grup band reggae, diantaranya Primitive, Babylonian, Local Ambience, Primitive, dan Ras Muhammad, tetap bersemangat memperdengarkan lagu-lagu yang terkenal “membebaskan” ini, untuk merayakan “63 tahun” kemerdekaan Indonesia. Penonton yang sudah terbawa lirik dan melodik lagu-lagu reggae, semakin berjingkrak-jingkrak, ketika sebuah band melantunkan lagu “gendjer-gendjer”, lagu yang identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terlarang itu. Bukan Cuma itu, lagu “Ke Selatan” ciptaan Yayak Kencrit pun begitu enak dilantungkan oleh band reggae ini, mengingatkan aku dengan Band “Modena City Rambler” ketika melantungkan Bella Ciao. Ratusan kaum muda dan penikmat reggae sengaja datang untuk menikmati acara ini. Salah satu band favorit yang ditunggu-tunggu mereka-mereka ini adalah Ras Muhammad, grup musik reggae yang baru saja menggebrak penggemar reggae Indonesia dengan “reggae hari ini”, “siempre”, “leaving Babylon”, dan lain-lain.


Gebrakan Musik Reggae

Ras Mumammad lahir bersamaan dengan periode kebangkitan musik reggae Indonesia. Periode “kebangkitan” reggae terjelaskan oleh kehadiran grup musik reggae yang bukan saja berada di pinggiran bilantika musik nasional, tetapi mereka kini membajiri khasana bermusik di Indonesia, termasuk kesanggupan menyedot perhatian penikmat musik. Kita mengenal Mas Tony Q Rastafara, Steven and Coconut Trees, Souljah, Pasukan Lima Jari, UpRising, Gangstarasta, Joni Agung and Double T sebagai “reggae musicians” yang turut meramaikan jagad musik reggae tanah air. Musik reggae setidaknya mendapat pengakuan public, bukan sekedar musik untuk dinikmati, tetapi juga sebagai aliran musik yang banyak memberikan inspirasi. Salah satu ukuran terbaik dari Industri reggae Indonesia adalah semaraknya Band-Band reggae merilis album indie dengan memasukkan warna-warna Indonesia dalam warna bermusiknya. Reggae Indonesia telah berhasil membentuk jati dirinya, sebuah tahapan yang menunjukkan kematangan.

Ras Muhammad bukan “new entry” dalam musik reggae ataupun gerakan rastafari. Selama 12 tahun bermukim di AS, telah memberikan begitu banyak kesempatan padanya untuk bersentuhan lansung dengan musik reggae, dan tekun mempelajari filosofi “rastafari”. Pengaruh dari “bermukim” di AS ini adalah warna musik Tribal Riddims dari Dancehall Reggae dalam warna musiknya. Akan tetapi, Ras Muhammad tidak begitu saja menerapkan gaya reggae ala AS dalam warna reggae yang disebutnya “reggae Indonesia”. Seperti Mao yang menerapkan Marxisme dengan menggabungkan kepribadian tiongkok, maka Ras Muhammad ingin menerapkan reggae Indonesia, yang menggabungkan hal-hal yang berbau lokal Indonesia.


Ras Muhammad adalah pengagum berat pemikir revolusioner, seperti Karl Marx, Che Guevara, dan Soekarno. Hasrat “pergerakan” yang dimiliki Ras Mumamad di luapkan lewat lagunya yang berjudul “siempre”, sebuah lagu yang mengingatkan kita pada sosok pejuang revolusioer Kuba, Che Guevara. Syairnya yang mudah dicerna dan mengandung emosi “idealisme revolusioner” menggambarkan Ras Muhammad adalah seorang musisi yang “cerdas”. Lagu “siempre” sedikit menyelamatkan muka musik Indonesia dari tuduhan “rendah mutu” dan seolah-olah kebanjiran tema cinta, cemburu ataupun selingkuh.


Reggae dan Perjuangan Kebudayaan


Masyarakat Indonesia sedang mengalami krisis kebudayaan. Krisis kebudayaan yang dimaksud adalah hilangnya seluruh entitas kebudayaan nasional, solidaritas tradisional, dan segala bentuk nilai-nilai kolektif dan egalitarian. Krisis kebudayaan ini sering dipersamakan dengan imperialisme kebudayaan, sebuah proses penjajahan yang dilakukan kekuatan modal multinasional terhadap negeri-negeri dunia ketiga. Penjajahan tidak melulu hanya pada lapangan ekonomi dan politik, tetapi juga berlansung dengan terbuka dalam lapangan kebudayaan. Dalam pertentangan ini, pekerja seni sangat diharapkan melakukan kreasi yang berwatak anti-indiviualisme, solidaritas, egalitarian, demokratik, dan kerakyatan.


Seni tak bisa dipandang netral, tidak memihak, dan terpisah dengan realitas sekitar kita. Dalam masyarakat berkelas, seni dominan (mainstream) dikuasai oleh klas berkuasa, dan dijadikan sebagai senjata untuk menundukkan klas terhisap. Reggae sebagai musik pembebebasan, yang memiliki kontribusi banyak dalam perjuangan kemanusian, ataupun pembebasan nasional bangsa Jamaika. Reggae memang berbeda dengan rastafari, tapi keduanya dilahirkan oleh akar kebudayaan yang sama; Jamaika. Sikap anti penindasan reggae jelas dari peristilahan mereka tentang penguasa penindas, yang disebut sebagai Babylon.


Ras Muhammad, Tony Q Rastafara, dan reggae-reggae lainnya yang sering mengusung protes politik dan kritik sosial, disadari atau tidak, telah masuk dalam pertempuran kebudayaan ini. Meskipun mereka tidak masuk secara lansung dalam arena politik dan menganjurkan perjuangan politik untuk perebutan kekuasaan, seperti yang dianjurkan oleh partai-partai kiri, akan tetapi mereka sedang berjuang menggusur budaya pasar dengan mengajarkan cinta, persaudaraan, dan egalitarianism; nilai-nilai baru yang sangat dibenci oleh penganjur globalisasi dan neoliberalisme.


Terlepas dari reggae yang anti politik, sebuah grup band yang mengusung reggae di Lampung, Red Flag, sedang mengobarkan perjuangan politik melawan system kapitalisme. Dengan slogan; “one soul, one struggle”, grup band yang digawangi oleh Dompak, aktifis JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat), begitu konsisten mengangkat tema pembebasan dalam lagu-lagunya, termasuk “internasionale”, lagu kebanggan klas pekerja sedunia. Red Flag mempersembahkan kaset-kasetnya untuk pekerja dan kalangan terhisap, dan tak jarang mereka “manggung” di tengah-tengah massa tersebut.


Ras Muhammad sendiri jelas bukan band “menyembah” profit seperti band-band anak muda pada umumnya. Ras Muhammad bahkan rela berkeringat-keringat dalam berbagai panggung gratis yang digelar oleh komunitas reggae ataupun kelompok pejuang demokrasi, seperti perayaan kemerdekaan, kebangkitan nasional, peringatan 14 tahun pembredelan Tempo, dan banyak lagi. Ini jelas bertentangan dengan logika neoliberal yang mengejar profit; mengejar penjualan CD/kaset, mengejar popularitas, dan seluruh aktifitas yang serba “komersil”.


Penulis adalah Anggota Sanggar Satu Bumi, Redaksi BERDIKARI Online, Pengurus Eksnas LMND.



Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Kekerasan Mahasiswa versus Kebrutalan Negara

Oleh: Ulfa Ilyas
Diskursus tentang kekerasan kembali menguat akhir-akhir ini. Setidaknya, ada beberapa rentetan kejadian yang tertangkap oleh media massa dan masyarakat umum yang kemudian dipersepsikan sebagai “gejala menguatnya aksi kekerasan”. Kita bisa menyebut tragedi monas, penyerbuan polisi kedalam kampus UNAS, dan terakhir demo mahasiswa yang berakhir rusuh di depan gedung DPR. Ada perbedaan mencolok dalam kejadian-kejadian diatas, antara peristiwa monas dan kasus kekerasan yang dijalankan kepolisian di kampus UNAS, ataupun bentrokan didepan DPR. Akan tetapi, media massa merangkumnya menjadi satu tema yakni “kekerasan”, yang semua kesalahannya dilimpahkan kepada sipil yang harus patuh kepada hukum.
Demonstrasi mahasiswa bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Gerakan mahasiswa merupakan sebuah bagian dari proses ekonomi-politik yang melingkupi perkembangan bangsa ini. Gerakan mahasiswa tidak bisa dipilah-pilah menjadi “demonstrasi damai” dan “aksi kekerasan”, karena kedua hal itu merupakan metode perjuangan yang diletakkan berdasarkan kondisi ekonomi-politik dan respon dari pemerintah.


Metode Kekerasan
Kita tidak dapat menyalahkan gerakan intifadah yang dilakukan oleh militan palestina untuk mengusir penjajah(Israel). Pilihan jalan konfrontasi atau kekerasan, merupakan pilihan akhir ketika jalan dialog dan perundingan secara baik-baik mengalami kebuntuan dan tidak memperlihatkan kebaikan. Penggunaan cara-cara yang keras, tidak kompromi, dan tidak sopan merupakan dorongan-dorongan emosinal sebagai akumulasi kemarahan atas sebuah situasi. Kemarahan ini berada diluar batas-batas yang bisa ditampung oleh sistem, sehingga bentuk pengekpresiannya berada diluar batas-batas yang ditoleransi oleh sistem.
Demo mahasiswa yang berakhir rusuh didepan DPR dan depan kampus Atmajaya merupakan ekspresi kemarahan terhadap tindakan politik pemerintah yang diluar batas. Sejak awal, gerakan mahasiswa sudah memperingatkan kepada SBY-JK perihal kebijakan ekonominya yang salah, yang menurut mahasiswa selalu memihak kepada kepentingan modal asing. Kenaikan harga BBM merupakan konsekuensi dari kebijakan ekonomi pemerintah yang bertumpu pada neoliberalisme; perdagangan bebas, liberalisasi ekonomi, dan mekanisme pasar. sehingga sejak awal, mahasiswa bukan saja menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, tetapi mengkoreksi arah kebijakan ekonomi pemerintah yang berbau “neoliberalisme”. Dimana-mana resep “neoliberal” terbukti gagal dan justru menimbulkan sebaliknya; kemiskinan, kelaparan dan kerusakan terhadap lingkungan.
Dan akhirnya, akhir bulan Mei lalu (23/05), meskipun gelombang protes meluas dari mahasiswa, buruh, petani, dan rakyat miskin lainnya, tetapi pemerintah tetap “ngotot” menaikkan harga BBM. sikap “ngotot” pemerintah menaikkan harga BBM dan tetap menjadi budak negara-negara imperialis mendorong kemarahan dan sikap anti-pemerintah dikalangan mahasiswa. Terlebih kemarahan itu makin berkembang takkala Maftuh fauzi yang jelas-jelas korban kekerasan aparat, kemudian oleh team dokter dinyatakan AIDS.
Kekerasan Pemerintah, Kekerasan Negara
Wacana kekerasan yang direproduksi oleh BIN, aparat kepolisian, ataupun pihak istana bertumpu pada cara pandang hukum yang begitu sempit. Jika memakai hukum secara buta, maka dapat disimpulkan bahwa para pejuang kemerdekaan, tokoh-tokoh pergerakan melawan kolonial yang telah mengobarkan perang kekerasan melawan penjajah telah melakukan tindakan kekerasan pula, yang melanggar hukum. Sehingga, wacana kekerasan tidak dapat didefinisikan dari sudut pandang hukum formal saja, tetapi harus diletakkan pada latar-belakang ekonomi-politik.
Sebenarnya, metode kekerasan yang dipergunakan mahasiswa bertujuan untuk membendung bentuk kekerasan negara yang dilancarkan pemerintah dengan kenaikan harga BBM, yang menyerang seluruh lapangan ekonomi rakyat. Kekerasan ekonomi berimbas pada melonjaknya angka kemiskinan, semakin terpukulnya daya beli rakyat, dan semakin sempitnya kesempatan untuk hidup (survival) dinegara ini. Jadi negara telah melakukan kekerasan ekonomi, yang juga berefek kekerasan sosial (kriminalitas), kekerasan psikologis (banyak yang gila dan bunuh diri), dan kekerasan budaya(rakyat semakin kehilangan mental produktifnya). Kekerasan yang dijalankan negara itu tidaklah sebanding dengan kerusakan pintu DPR ataupun sebuah Avanza merah yang terbakar didepan Atmajaya akibat kemarahan mahasiswa. Pun demikian, metode kekerasan yang dijalankan mahasiswa tidak mengarah pada kerusakan umum tetapi lebih mengarah pada symbol-simbol pemerintah dan apparatus kekerasannya (polisi); plat merah, pos polisi, mobil patroli, dan lain-lain.
Disini ada gerakan anti pemerintah yang direproduksi oleh kebijakan pemerintah yang tidak populer. Pemerintah harus menyikapi ini dengan melakukan koreksi terhadap kebijakannya, serta mengajak semua kelompok oposisi untuk mendiskusikan jalan terbaik (alternative), bukan menjalankan serangan balik. Penangkapan, penggeledahan, dan pengejaran sejumlah aktifis yang diduga terlibat kekerasan hanya akan memperpanjang dan memperuncing pertentangan antara rakyat dan pemerintah. Seolah-olah pemerintah mau memperlihatkan watak negara yang jauh lebih kuat pada rakyat, inilah otoritarianisme.
Penulis adalah Aktifis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).



Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Mesin Tua dan Ekonomi-Politik BBM


Oleh: Ulfa Ilyas[1]

Ibarat mesin tua, semakin cepat rusak dan banyak mengeluarkan ongkos. Mesin tua juga boros menggunakan BBM dan kurang produktif dibandingkan mesin baru. Inilah gambaran politisi tua negeri ini. Meskipun sudah malang melintang dalam panggung perpolitikan nasional, namun cara berpolitik mereka tidak berubah, malah semakin menjenuhkan. Konfigugaris politik para politisi tua di negeri ini mencakup hampir semua partai-partai lama, elit politik muka lama, hingga orang muda tapi cenderung mengikuti dan membelah tradisi lama.

Sangat menarik membedah sepak-terjang mereka seiring dengan dekatnya momentum kenaikan BBM yang dijadwalkan awal juni mendatang. Kenaikan BBM tahun ini memiliki beberapa signifikansi, pertama, karena datangnya berhimpitan dengan gejolak kenaikan harga-harga sembako diberbagai daerah, kemiskinan yang semakin bertambah akut, dan pengangguran yang cukup meluas. Kedua, kenaikan BBM berdekatan dengan momentum pemilu 2009, sehingga ini bisa menjadi ajang manuver politik berbagai elit politik dari berbagai sisi. Sejarah menunjukkan, kenaikan BBM selalu menjadi pemicu krisis politik akibat meluasnya demonstrasi dan protes sosial, disisi lain, elit politik yang berdiri di pihak oposisi menjadikan isu ini sebagai senjata utama untuk menghajar lawan politiknya.

Sepak Terjang Mesin Tua

Menjelang rencana pengumuman kenaikan BBM pada awal bulan juni nanti, mesin tua ini terbagi menjadi dua pengelompokan utama yaitu mereka yang berada dibelakang tuntutan menaikkan BBM dan berposisi menentang kebijakan ini. Sisanya mereka yang ambigu namun perlahan-lahan terdorong masuk dalam dua pengelompokan ini. Kepentingan utama dibalik kenaikan BBM sebenarnya adalah kepentingan asing. Hal ini dapat dilacak pada kenyataan bahwa pengelolaan migas Indonesia sepenuhnya dikuasai oleh asing. Menurut Hendri Saparini, ekonom ECONIT, sekitar 85%-90% pengelolaan migas di Indonesia dipegang oleh pemodal asing. Karena bergantung pada kepentingan asing, pemerintah Indonesia tidak sanggup melakukan penataan terhadap orientasi kebijakan migasnya agar berpihak kepada mayoritas rakyat. Tekanan terhadap APBN merupakan imbas dari praktek impor beberapa tahun sebagai respon kekurangan pasokan minyak nasional, akibat hampir seluruhnya dikendalikan asing.

Bagaimana reaksi segenap lapisan elit politik nasional menanggapi kenaikan BBM. Kelompok pertama berargumentasi bahwa kenaikan BBM sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Menurut mereka, kenaikan harga minyak dunia merupakan hukum alam yang harus diikuti oleh pemerintah Indonesia. kelompok kedua meskipun berposisi mengkritisi atau bahkan menolak, namun kritik mereka terus-menerus berputar-putar pada persoalan wajar dan tidak wajar menaikkan BBM dalam situasi sekarang? Kenaikannya jangan membebani rakyat? Dan pemerintah harus berpikir ulang sebelum menaikkan BBM? Selanjuntnya, mereka menawarkan solusi yang tidak bergeser jauh dari wacana-wacana moral mereka.

Politik BBM dan Kebangkitan Protes

BBM merupakan kebutuhan yang sangat vital. Sulit membayangkan perekonomian bisa bergerak dan berkembang kalau tidak ada pasokan energi. Demikian pula dengan rakyat Indonesia, mayoritas diantara mereka masih menggantungkan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk aktivitasnya. Selain itu, BBM merupakan price list. Penentuan harga-harga barang dan komoditi dipasar dihitung dengan berpatokan kepada harga BBM. Jelas, BBM menjadi elemen penting yang harus dikontrol oleh negara agar harganya tidak berubah-ubah. Berita mengenai kenaikan BBM akan memicu gejolak perekonomian. Orang-orang menjadi risau dan khawatir karena aktivitas paling dasar seperti makan dan minum pun sangat tergantung pada ada tidaknya pasokan BBM.

Tak pelak lagi, unjuk rasa marak dimana-mana. Berbagai daerah memperlihatkan eskalasi meningkatnya aksi penentangan terhadap rencana menaikkan harga BBM. di Jakarta sendiri, aksi massa yang dilakukan oleh FRM berhasil memobilisasi 8000-an massa bergerak keistana. Di berbagai daerah kendati bertuburukan dengan kepolisian yang menjadi alat kekuasaan SBY-JK mengamankan kebijakannya aksi perlawanan menolak kenaikan BBM terus terjadi. Aksi-aksi ini semakin memperlihatkan kerisauan dan kerawanan bagi pemerintah ketika aksi-aksi ini mulai diikuti atau didukung oleh elit politik. Isu “tunggang-menunggangi” pun begitu intensif dilemparkan oleh badan intelijen, kepolisian, pemerintah dan media massa. Keterlibatan elit politik dalam aksi ini sepenuhnya menguntungkan pengunjuk –rasa dalam hal perimbangan kekuatan. Tetapi, tidak semua politisi yang menentang kenaikan harga BBM dapat diharapkan sebagai supporting gerakan. Banyak pula diantara mereka yang punya agenda politik yang hendak disusupkan lewat mahasiswa.

Pertemuan kepentingan antara gerakan massa dan kepentingan elit politik ini sangat sementara. Sehingga harus disadari, kepentingan gerakan adalah bersifat strategis sedangkan kepentingan beberapa dari elit itu bersifat sangat pragmatis (pemilu 2009). Karena perbedaan kepentingan itu, independensi gerakan dalam menjalankan strategi-taktik tetap harus dipertahankan. Kita kaum gerakan kendati harus mengakui pentingnya aksi bersama sebagai jalan mengakumulasi kekuatan, tetapi tetap harus menjaga keluwesan dan kebebasan dalam menjalankan stratak serta menyampaikan program perjuangan.



[1] Aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)

Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Gembok (dan) Kemunafikan

AJ Susmana

Benang kusut persoalan negeri ini semakin menggelisahkan bila tak dapat diurai dengan bijak. Bukan hanya kegilaan yang mungkin makin bertambah di antara rakyat negeri tapi juga tak menemukan jalan keluar sehingga kita hanya berputar-putar dalam lingkaran setan kebingungan dan tak keluar untuk berkembang menjadi bangsa besar. Persoalan yang nyata dihadapi tentu saja adalah: kemiskinan, korupsi dan tak tersedianya lapangan kerja. Kita sadari semua ini akibat dari proses penjajahan kolonial yang belum berakhir. Kekayaan alam kita masih dikuasai perusahaan asing dan dalam pengelolaan dan pengolahannya tak memakmurkan rakyat negeri tapi terus saja memperbanyak pundi-pundi untuk kemakmuran negeri asing. Inilah penjajahan baru yang membuat kita merasa terus-menerus dalam kondisi pemiskinan sejak proklamasi kemerdekaan 63 tahun yang lalu. Tanpa Jeda.

Walau begitu, bagaimana persoalan ini diselesaikan tampak tak menjadi fokus pemimpin negeri. Kita lihat: Pemerintah kota di berbagai wilayah Republik Indonesia yang sedang membangun citra kota yang bersih berusaha keras menyingkirkan para gelandangan, pengemis dan tuna wisma, termasuk juga menyingkirkan pedagang kaki lima beserta sumber kehidupannya tanpa solusi pengganti tempat kerja yang pasti. Mereka yang mulai mengganggu pandangan mata karena secara menyolok tinggal di kolong-kolong jembatan atau pinggir-pinggir rel kereta api disingkirkan. Kemana mereka pergi? Tidak tahu…tapi tak berapa lama satu-persatu, keluarga demi keluarga, kembali ke kolong-kolong jembatan; ke pinggir-pinggir rel kereta api; mengais-ngais kehidupan. Seadanya. Semampunya. Tak peduli kesehatan anak dan diri-sendiri. Tak ada program yang makin memanusiakan. Jelas sudah program pemerintah dalam soal kemiskinan kebanyakan hanyalah menggusur orang-orang miskin dari kota yang sedang membangun citra, bukan pada menggusur pemiskinan atau sistem yang memiskinkan rakyat negeri yang terus berlangsung. Kemiskinan seperti mengalir saja bersamaan hingar-bingar musik dan kehidupan lainnya. Kemiskinan dianggap hanyalah salah satu tarian dalam kehidupan. Dalam kemiskinan, tentu tak ada keindahan. Begitulah kemiskinan merajalela sementara immoralitas atau yang dianggap asusila oleh para pemimpin negeri diperangi di mana-mana dengan energi besar dan seringkali menjadi tidak manusiawi, ketinggalan jaman dan mengada-ada.

Masih ingat Gembok Pemijat, yang beberapa hari lalu menghiasi media-media massa kita baik elektronik maupun cetak? Gembok pengaman kemaluan perempuan yang sudah menjadi cerita kuno itu tiba-tiba menjadi pembicaraan hangat di mulut laki-laki dan kaum perempuan. Menjadi inspirasi (mungkin) bagi beberapa orang untuk mencegah perzinahan, pemerkosaan dan kebejatan lainnya yang bersumber dari seksualitas. Orang pun kembali diingatkan pada masa raja-raja menggembok kemaluan putri, isteri dan selir-selir raja agar tak terjerumus pada perzinahan maupun perselingkuhan. Inilah solusi politik mencegah tindakan asusila seksual yang dikibarkan Pemerintahan Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Dinas Pariwisata DKI pun tengah menimbang-nimbang apakah akan mengikuti aturan yang dijalankan Pemkot Batu, Malang tersebut.

Tindakan ini sendiri dilakukan dalam rangka mencegah bisnis pelacuran terselubung di panti-panti pijat. Sementara itu soal pelacuran sendiri dari segi ilmu-ilmu sosial dapat dipahami sebab keberadaannya, tumbuh-kembangnya dan bagaimana menghapuskannya dengan bijak. Tentu tak cukup dari sudut moralitas dan aturan formal saja. Pelacuran adalah penyakit sosial. Di sini, kemiskinan ekonomi adalah faktor penting merebaknya pelacuran. Sistem ekonomi politik yang tak adil akan selalu memberi ruang pada pelacuran. Diberantas dengan cara apapun termasuk kekerasan, bila sistem ekonomi politiknya tak adil, pelacuran tetap akan ada. Dalam situasi ini pelarangan hanya menimbulkan bentuk pelacuran yang baru yang justru geraknya sulit diikuti yakni pelacuran terselubung. Dengan begitu efek buruk misalnya penyakit seksual juga susah diberantas. Kemunafikan pun akan menjadi-jadi. seperti juga yang terjadi pada jaman Victoria

Dengan begitu, dalam situasi ini ketika rakyat membutuhkan pemimpin yang tepercaya, kualitas moral pemimpin memang dibutuhkan. Tertangkapnya anggota DPR, Al Amin Nasution oleh KPK dan sebelumnya, Jaksa Urip yang notabene “mewakili” orang-orang terhormat di negeri ini dalam kasus penyuapan bahkan penyuapan terhadap Al Amin Nasution disinyalir melibatkan juga bisnis pelacuran (walau tetap dijunjung asas praduga tak bersalah) hanyalah semakin menyimpulkan betapa jauhnya kata dan perbuatan dari para pemimpin negeri ini.

Sekali lagi, kemunafikan itulah yang melanda sebagian pemimpin negeri dan kita berharap semoga masih banyak pemimpin yang bersih dan memang bekerja untuk rakyat. Bekerja untuk kemakmuran rakyat: menggusur pola pemiskinan yang berlangsung bukan menggusuri orang-orang miskin dari perkotaan demi kenyamanan segelintir orang. Lagu Slank, “Gossip Jalanan” yang salah satunya baitnya menyinggung pola kerja anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya mementingkan uang itu tampak menemukan kebenarannya. Karena itu dari segi moral, yang penting adalah menggembok kemunafikan dan jujur pada realitas. Dengan begitu, diharapkan dapat bangkit dari realitas tersebut serta mengubahnya menjadi lebih baik sesuai kehendak jaman.

Tulisan ini pernah dimuat di: www.vhrmedia.com Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Persatuan Mahasiswa Jakarta; Mahasiswa Jakarta Menentang Kenaikan Harga BBM


Oleh: Ulfa Ilyas[1]

Hari-hari yang melelahkan. Berhari-hari, bahkan hampir sebulan, aku dan kawan-kawan turun kejalan untuk menentang rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. kenaikan BBM tahun ini merupakan kebijakan ketiga kalinya dimasa pemerintahan SBY-JK. Dan itu berarti, tiga kali pula gerakan mahasiswa dan gerakan yang mengaku revolusioner gagal menghentikan kebijakan pemerintah, bahkan untuk penundaan sekalipun. Kegagalan ini patut menjadi pertanyaan besar, karena di akhir April dan di awal Mei, kita masih sempat turun secara besar-besaran untuk merayakan May-day. Belum lagi, momentum radikalisasi di bulan Mei yang berhimpitan seperti hardiknas, tragedy trisakti, kebangkitan nasional, dan jatuhnya Orde baru. seharusnya momentum ini bisa memberikan lipatan kekuatan untuk gerakan menentang kenaikan harga BBM, hingga berhasil menggagalkannya.

Sebelum pengumuman kenaikan harga BBM (23/05/08), Berbagai kelompok mahasiswa, buruh, petani, miskin kota, dan perempuan menggelar aksi massa untuk menentang kebijakan pemerintah ini. Gelombang aksi-aksi menentang kenaikan harga BBM berkembang dan cukup meluas, meskipun daya pukulnya masih terasa cukup lemah. Di makassar, aksi di mulai di kampus UIN Makassar yang berujung bentrok dan penangkapan beberapa aktifis mahasiswa. Kejadian ini memicu aksi –aksi serupa berkembang di beberapa kampus lainnya, seperti di UMI dan UNM. Di daerah lain, aksi massa menentang kenaikan BBM juga berlansung di Padang, Lampung, Palembang, Jambi, Jakarta, Surabaya, malang, Semarang, jogjakarta, Maluku, samarinda, manado, dan lain-lain. Di Jakarta, aksi menentang kenaikan harga BBM dilakukan sejak tanggal 12 mei oleh elemen KAMMI, BEM Se-Indonesia, dan Front Rakyat Menggugat.

Peringatan kebangkitan nasional (20/05) dimanfaatkan sebagai momentum menolak kenaikan harga BBM. Aksi besar-besaran dilakukan oleh Front Rakyat Menggugat (FRM) yang merupakan gabungan puluhan organisasi seperti LMND, Papernas, FNPBI, SRMI, Repdem, Prodem, GMNK, FAMRED, Dewan Tani Indonesia, ISBI, HMI, GMKI, dan lain-lain. FRM memobilisasi sekitar 8.000-an massa lebih menuju istana negara. Di tengah-tengah massa FRM, hadir mantan menko perekonomian era Gusdur, Risal Ramli yang turut berjalan kaki bersama massa ke istana merdeka. FRM memegang platform anti terhadap sistem neo-liberalisme.

Esok harinya (21/05/08), giliran berbagai elemen melakukan aksi depan istana bersamaan dengan momentum kejatuhan Orde Baru. karena momentum reformasi, kelompok yang mencolok dalam aksi ini adalah mahasiswa yang berasal dari KAMMI, BEM, FORKOT, FRM, kelompok organisasi mahasiswa Cipayung (HMI dan PMII) dan kelompok-kelompok mahasiswa yang lebih kecil (dewan mahasiswa Jakarta, mahasiswa Untar, dll). Diluar mahasiswa, ada kelompok Front Pembebasan Nasional (FPN) yang merupakan organisasi-organisasi yang turut memperkuat formasi Aliansi Buruh Menggugat. Mereka memobilisasi lima ratusan orang yang mayoritas adalah buruh. Kelompok lainnya adalah Front Perjuangan Rakyat (FPR) yang merupakan sebuah formasi front saat respon Mayday. Aksi tanggal 21 mei ini memperlihatkan wajah asli gerakan di Indonesia yang terpragmentasi, dengan membuat panggung sendiri-sendiri, masing-masing front/aliansi mengagitasi massa masing-masing. Aksi kelihatan seperti sebuah perang soundsystem dan kepiawaian berorasi, ketimbang sebuah gerakan massa politis untuk menekan pemerintah.

Tanggal 23 Mei, pukul 09.30, pemerintah SBY-JK lewat menterinya telah mengumumkan kenaikan harga BBM. Pengumuman ini adalah deklarasi kemenangan pemerintah setelah pertempuran melelahkan. Kecuali UNAS, aksi-aksi yang digelar untuk merespon pengumuman ini sungguh kecil dan tercerai-berai.

Pemicu itu di “Pejaten”

Pengumuman kenaikan harga BBM hari jum,at (23/05/08), merupakan keputusan mendadak yang berada diluar prediksi organisasi-organisasi gerakan perlawanan. Beberapa kelompok mencoba memberikan respon spontan atas kebijakan pemerintah ini, akan tetapi sangat kecil. Tiba-tiba, mahasiswa di kampus UNAS membuat sebuah letupan. Aksi yang awalnya berlansung di depan kampus, direspon oleh polisi secara berlebihan memicu bentrokan antara mahasiswa dan polisi dari malam hingga pagi hari. Kejadian di kampus UNAS menjadi titik kulminasi dari rangkaian aksi kekerasan kepolisian dalam menangani aksi-aksi mahasiswa. Begitu brutalnya polisi menyerbu kampus UNAS telah memberikan energi berkali-kali lipat kepada beberapa elemen gerakan mahasiswa untuk kembali turun kejalan. Aksi-aksi serupa kembali terjadi di berbagai kampus, bukan hanya di Jakarta, akan tetapi terjadi pula dibeberapa daerah seperti Makassar, Malang, Surabaya, dan lain-lain.

Di Jakarta, respon atas kerusuhan yang dilakukan oleh aparat melahirkan konsolidasi yang cukup luas namun cukup solid, yakni Persatuan Mahasiswa Jakarta. Karena melihat perkembangan aksi kekerasan yang dilakukan oleh polisi di kampus UNAS dan diberbagai tempat, beberapa kelompok gerakan mahasiswa ini sepakat menghilangkan warna bendera dan berbagai hambatan-hambatan dalam persatuan. Hasilnya cukup bagus, beberapa aksi di depan kampus bisa dikoordinasikan dan diputuskan secara bersama-sama.

Di daerah, respon atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM kembali bergelora. Di kampus Universitas Hasanuddin terjadi bentrokan antara mahasiswa dan polisi. Demikian pula dengan mahasiswa IAIN Alauddin Makassar, untuk kesekian kalinya, aksi mahasiswa diserbu oleh polisi masuk kampus bahkan mengejar sampai ke pemukiman mahasiswa. Di Jalur pantura, ribuan nelayan menggotong perahu dan memasangnya terbentang dijalan yang merupakan jalur utama pantura. Perahu itu dibakar oleh nelayan sebagai symbol protes atas kenaikan harga BBM yang akan menyengsarakan rakyat. Di Madiun, masyarakat memasang bendera setengah tiang sebagai bentuk keprihatinan atas kenaikan harga BBM.

LMND sendiri menggelar aksi mogok makan serentak di berbagai kota di Indonesia, diantaranya; di kampus IISIP (Jakarta), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Hasanuddin (makassar), Unila dan UBL (Lampung), kantor DPRD dan STAIN (Palu), STAKN (Toraja), UKSW(Salatiga), Universitas Diponegoro (semarang), Unsoed (Purwekerto), IAIN Raden Fatah (Palembang), IKIP Mataram (NTB), STIKOM (Labuhan Batu), Univ. Riau- UNRI (Riau), Unitri (Malang), Unhalu (kendari), Univ. Samratulangi (Manado), Univ. IKSAN (Gorontalo), ULB ( Labuhan Batu), UNSI (Siantar), Alun-alun kota Kudus, .

Ada pergeseran bentuk aksi maupun panggung yang diambil oleh gerakan mahasiswa paska kenaikan harga BBM. metode aksi dengan jalan membakar ban dan memblokir sebagian badan jalan makin marak di Jakarta dan beberapa kota. Panggung utama bukan lagi didepan istana atau symbol pemerintahan, akan tetapi sudah coba beralih kekampus-kampus. Pergeseran bentuk aksi dan panggung ini dilatarbelakangi oleh dua hal yakni; pertama, kekerasan dan refresifitas polisi dalam berbagai aksi unjuk rasa damai menentang kenaikan harga telah memberikan kesadaran baru kepada mahasiswa untuk melawan dengan kekerasan pula. pendekatan brutal polisi telah mengkondisikan metode perlawanan mahasiswa dialihkan ke kampus. Metode ini terlihat dipakai di UNAS, UKI Jakarta, Moestopo, Unhas Makassar, dan UIN Makassar. Kedua, aksi –aksi keluar dengan kemampuan mobilisasi yang mengecil keliatan tidak memiliki dampak signifikan secara politik (kurang kedengaran), dan tidak menguntungkan dalam memperbesar gerakan.

Melawan Sektarianisme

Persatuan Mahasiswa Jakarta (PMJ) dilator-belakangi oleh peristiwa UNAS. Penyerbuan brutal polisi kedalam kampus UNAS telah memberikan kesadaran baru kepada mahasiswa bahwa aksi-aksi kecil yang terisolasi dikampus-kampus dengan mudah akan dipukul oleh polisi. Harus ada penyatuan aksi-aksi tersebut, sehingga tekanan politiknya bisa meluas, suhu politiknya tetap terjaga dan konsentrasi polisi bisa terpecah belah. Beberapa elemen gerakan, terutama elemen yang dicap “heroic” oleh gerakan yang ‘revolusioner” melakukan konsolidasi. Kebanyakan mereka adalah eks-eks aktifis 1998 yang masih memiliki pengaruh kuat didalam kampus. Konsolidasi ini melahirkan aliansi/front bernama Persatuan Mahasiswa Jakarta (PMJ). Kendati motor utama konsolidasi PMJ adalah organisasi-organisasi gerakan (ekstra), tetapi demi kepentingan memperluas dan mempertahankan suhu politik penentangan kenaikan harga BBM, organisasi-organisasi ini bersepakat melepaskan bendera dan nama organisasi. PMJ mengkoordinasikan beberapa kampus di Jakarta antara lain; Univ. Moestopo Beragama, Universitas Bung Karno (UBK), Univesitas Sahid Jakarta (USAHID), Univ. Mercu Buana, Institute Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, UPI- YAI, Univ. Pancasila (UP), UPN, Univ. Jayabaya, BSI, Univ. Borobudur, Universitas Nasional (UNAS), Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Univ. Islam Negeri (UIN) Jakarta. Dalam hal tuntutan, PMJ tetap menuntut supaya pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM dan mengambil solusi; nasionalisasi Industri pertambangan asing dan penghapusan utang luar negeri.

Kesepakatan menurunkan bendera dan menyimpan nama-nama organisasi merupakan sebuah langka maju. Beberapa persoalan sectarianism terkadang bermuasal dari eksistensi organisasi dan arogansi organisasi yang merasa lebih unggul (secara kuantitatif dan kualitatif). Di dalam gerakan mahasiswa, sektarianisme lahir dari cara berfikir atomistik yang ditumbuh-kembangkan oleh ilmu pengetahuan borjuis di pengajaran-pengajaran Universitas. Gerakan yang terisolasi dan terpagari oleh symbol-simbol universitas dan lambang organisasi diperkuat oleh kenyataan masih kuatnya intervensi apparatus negara terhadap lembaga Universitas. Tidak jarang, pihak rektorat selalu menghalang-halangi mobilisasi-mobilisasi mahasiswa yang mulai bercampur-baur dengan gerakan mahasiswa dari kampus lain, ataupun berbaur dengan sektor rakyat lain.

PMJ memulai pekerjaannya dengan membangun posko di beberapa titik yakni IISIP Jakarta, Moestopo, dan YAI. Posko di IISIP yang dikoordinasikan oleh teman-teman LMND juga diisi dan didatangi oleh mahasiswa dari GMNK, Moestopo dan Mercubuana. Di Posko ini, tidak ada symbol organisasi, yang ada adalah kesepakatan bahwa gerakan harus disatukan dan perlawanan harus dilanjutkan. Posko IISIP menggelar aksi mogok makan dengan 6 orang peserta (2 dari IISIP, 2 dari UNAS, dan 2 dari Unisma Bekasi). Aksi bagi selebaran, propaganda dan kampanye dilakukan atas nama persatuan mahasiswa Jakarta. Di hari pertama, kedua dan seterusnya, kawan-kawan Solidaritas Mahasiswa IISIP (SM-IISIP) yang didalamnya diisi oleh sebuah tendensi sektarian menolak untuk bergabung dalam PMJ dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal; persoalan organ ekstra-lah, persoalan ada bintang di baliho-lah, dan macam-macan. Bahkan, di hari ketiga, SM-IISIP mengirimkan SMS ultimatum untuk mengusir posko kami dengan alasan bahwa posko PMJ diisi oleh mahasiswa dari luar. SM-IISIP sendiri adalah merupakan wadah dari BPM dan beberapa organisasi mahasiswa yang sebenarnya adalah unsur minoritas di kampus, akan tetapi mereka diuntungkan oleh posisi organ legal (BPM) sehingga dengan seenaknya mau mengusir kita. Di hari pertama posko PMJ, kampus UKI bergolak oleh karena perlawanan mahasiswa menentang kenaikan harga BBM.

Aksi PMJ di yang paling sukses adalah aksi terkoordinasi dihari kedua, tepat sore hari, kampus Borobudur di Kali Malang, Jakarta timur menggelar aksi bakar ban didepan kampus. Beberapa menit kemudian, kawan-kawan di Atmajaya juga menggelar hal yang sama. Di kampus Moestopo, polisi bentrok dengan mahasiswa. Demikian pula dengan kampus UIN di Ciputat juga melakukan aksi serupa didepan kampus. Aksi-aksi ini begitu sukses mempertahankan suhu politik dan militansi mahasiswa Jakarta untuk tetap melakukan aksi-aksi menentang kenaikan harga BBM.

Metode “back to campus” dan melakukan konfrontasi-konfrontasi dengan aparat merupakan pilihan taktik yang tepat pada saat itu. Meskipun belum berhasil, akan tetapi secara perlahan-lahan, gerakan mahasiswa mencoba untuk mengembalikan pamor kampus sebagai panggung gerakan. Ada banyak metode dan panggung yang bisa dilakukan, antara lain; aksi-aksi mimbar bebas, orasi keliling, bagi-bagi selebaran, diskusi dan debat terbuka, rapat-rapat akbar di auditorium atapun lapangan terbuka, dan aksi-aksi didepan kampus. Selain itu, alat –alat propaganda di kampus harus difungsikan kembali sebagai corong propaganda gerakan. Ada kebutuhan memaksimalkan atau membangun pers-pers kampus dan pusat-pusat penerbitan, membangun dan mengoptimalkan radio-radio komunitas/kampus, alat-alat kebudayaan seperti teater, patung, mural, dan musik-musik perjuangan.

Kami menyadari, kelemahan masih terjadi disana-sini. Aksi-aksi yang dilakukan dikampus sudah mulai menyurut. Kawan-kawan yang tertangkap belum berhasil kita bebaskan. Koordinasi yang dilakukan oleh teman-teman dialiansi masih sangat cair dan keterlibatan massa mahasiswa dalam aksi-aksi yang digelar didepan kampus masih sangat kecil. Akan tetapi, pekerjaan teman-teman dari berbagai kampus merupakan embrio persatuan, sekaligus merupakan investasi (tabungan) kesadaran bersatu (tidak sektarian) untuk menyonsong perjuangan selanjutnya. Kita sudah memulai, kami berharap semangat-semangat serupa bisa tumbuh subur hingga akhirnya bisa meruntuhkan rejim pro-asing ini. A luta Continua!



[1] Aktifis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Jakarta.

Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Perempuan Membebaskan Dirinya: Sejarah Gerakan Perempuan


Oleh: Ulfa Ilyas

Sejarah memberikan banyak contoh tentang para perempuan yang memiliki kekuasaan, keberanian dan bakat yang luar biasa. Para perempuan semacam itu kita kenal sebagai kaisar-kaisar perempuan dan ratu-ratu yang terkenal, pejuang-pejuang perempuan yang gagah berani, orang-orang suci, tukang-tukang sihir perempuan, ilmuwan-ilmuwan perempuan, penyair-penyair perempuan dan seniman-seniman perempuan. Mereka adalah orang-orang yang terkenal dalam sejarah kaum perempuan. Namun mereka tidak lebih dari pengecualian-pengecualian individual yang tidak (dan tak bisa) berpengaruh atau memajukan secara nyata status dari mayoritas luas kaum perempuan awam dan tertindas. Kita bisa melihat Boadicea (61M), prajurit ratu yang menentang pendudukan Roma atas inggris, Ratu Elisabeth II (1533-1603) penguasa besar kerajaan Inggris yang menginspirasi renaisans Inggris, Kaisar catherina yang Agung(1729-1796) orang Jerman memerintah rusia selama 35 tahun, Sappho (650 SM) penyair besar pada masa Yunani kuno.

Di Indonesia, kita mengenal ada ratu Sima, penguasa kerajaan Kalingga di jawa tengah. kemudian ada Cut Nyak Dien (1850-1908), seorang perempuan Aceh yang gagah berani dalam melawan Belanda, Laksamana Malahayati( 1585-1604), Cristina Marta Tiahahu (Maluku) dan juga Cut Mutia (aceh). Selain itu kita juga mengenal R.A Kartini(1879-1904), anak dari seorang pejabat tinggi, menetang poligami, perkawinan paksa dan penjajahan, dan menyerukan hak-hak perempuan terhadap pendidikan, kartini juga mendirikan sebuah sekolah untuk gadis-gadis dengan 120 orang muridnya-namun dia meninggal secara tragis saat melahirkan anak pada usia 25 tahun.

Dalam sejarah, yang dituliskan oleh Frederick engels dalam bukunya: asal-usul keluarga, kepemilikan pribadi dan Negara, bahwa perempuan pernah menjadi pemimpin politik di fase-fase awal perkembangan masyarakat, terutama tribalisme. Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari Dewan Suku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakat Indian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melalui sebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara. Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19. Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan dengan Romawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku.Demikian pula yang berlaku di tengah suku-suku Schytia dari Asia Tengah. Di tengah mereka, bahkan perempuan dapat diangkat menjadi prajurit dan pemimpin perang.

Namun kenapa ada diskriminasi terhadap perempuan?

Pada umumnya, kaum konservatif dan penganut keyakinan (religi) menempatkan perempuan dalam posisi nomer dua dalam struktur sosial. Ini nampak jelas dalam ungkapan “perempuan ada tiang negara, kalau perempuan rusak maka rusaklah negara”. Pendukung mereka juga memberikan stereotype bagi kaum perempuan yang meninggalkan rumah sebagai hal yang buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, diskrimanis terhadap perempuan terjadi dalam berbagai aktib\vitas sosial, antara lain: di transfortasi umum, di mall, pasar, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya. Dalam masyarakat Indonesia, yang sistem transfortasi dan pelayanan publiknya sangat buruk, perlakukan tidak senonoh terhadap perempuan kerap kali terjadi. Di mall atrium senen, seorang anak perempuan SMU dilecehkan oleh petugas security mall (25/03/2008). Beban ekonomi turut menjadi beban yang harus dipikul oleh perempuan, terutama mereka yang hidup dinegara-negara miskin. Di Indonesia, Seorang ibu membunuh kedua anaknya karena stress diduga karena faktor ekonomi yang menyelimuti keluarganya. Persoalan-persoalan diatas yang dihadapi perempuan sungguh sangat miris dan sangat menyedihkan. Perempuan-Perempuan masih ditempatkan dalam wilayah domestik. Sehingga dalam hal ini, menyebabkan perempuan selalu dibebankan persoalan-persoalan, seperti: belanja dapur, perabot rumah tangga dan biaya sekolah anak, dll. Selain persoalan kemiskinan diatas, persoalan diskriminasi, pelecehan seksual dan persoalan pendidikanlah yang membuat kaum perempuan menjadi terbelakang dan tertindas. Dalam hal pekerjaan, perempuan masih terjanggal dalam memperoleh posisi –posisi penting dan promosi jabatan. Umumnya, perempuan tidak memperoleh jabatan penting karena faktor-faktor gender yakni seperti haid, hamil dan melahirkan. Di beberapa daerah, diberlakukan aturan bahwa Perempuan tidak boleh kerja malam, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa perempuan masih dianggap manusia kelas dua dalam lapisan masyarakat Indonesia.

Di tengah derasnya arus globalisasi, semestinya perempuan diberikan ruang yang lebih luas—setara dengan kaum lelaki, untuk mengaktualisasikan dirinya, bukan hanya sekedar dijadikan pekerja upahan yang murah dan dieksploitasi. Dalam hal persoalan pendidikan, perempuan masih sangat terbelakang, sehingga sangat susah untuk bisa mengakses informasi. seharusnya akses pendidikan yang baik dan berkualitas harus diberikan kepada kaum perempuan, sehingga kaum perempuan bisa memberdayakan dirinya untuk bisa lebih maju , memikirkan bagaimana kaumnya secara menyeluruh bisa terbebas dari bentuk- bentuk penindasan yang selama ini terjadi, kemiskinan dan persoalan-persoalan perempuan yang lainnya.

kemiskinan perempuan Indonesia berwatak struktural, kenapa? Karena kemiskinan ini dilatarbelakangi oleh struktur ekonomi-politik yang meminggirkan peran perempuan. Perempuan masih terbelakang dalam lapangan ekonomi, terkadang mereka tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Kelemahan ini masih ditambah dengan fakta bahwa umumnya kaum perempuan terbelakang dalam hal pendidikan, ketrampilan (skill) dan kesehatan.

Kenapa itu bisa terjadi?

Penyebab dari persoalan-persoalan yang dirasakan perempuan bukanlah hanya sekedar persoalan Mentalitas atau karena persoalan fisik, atau persoalan biologis saja, tapi persoalan itu dikarenakan ada faktor histories dan ideologis yang menyebabkan kenapa kaum perempuan tertindas.

(1) Patriarkhi

Patriarkhi berasal dari bahasa Yunani:Patria Berarti bapak, dan Arche berarti aturan. merupakan istilah antropologis yang digunakan untuk merumuskan kondisi sosiologis anggota laki-laki suatu masyarakat cenderung menguasai posisi kekuasaan; semakin berkuasa mereka, maka makin kuat dorongan seorang laki-laki untuk memegang posisi tersebut. Istilah patriarkhi juga dipergunakan dalam sistem tingkat-tingkatan kepemimpinan laki-laki dalam hirarki gereja atau lembaga agama.

Patriarkhi adalah sebuah ideologi yang mengukuhkan dominasi laki-laki/maskulinitas atas kaum perempuan/female, ideologi ini muncul bukanlah dalam proses alamiah(kodrat/sudah semestinya) tetapi lebih pada faktor histories.

Dalam penelitian seorang antropolog bernama Lewis H.Morgan menyebutkan dalam penelitiannya bahwa perempuan pernah menempati posisi sosial sejajar bahkan menentukan dalam organisasi sosial masyarakat. Dalam Masyarakat Indian Iraquis yang ditelitinya, dijelaskan bahwa kaum perempuan mengambil posisi yang menentukan, bahkan kaum perempuan bisa dipilih memimpin sukunya. Dalam masyarakat Iraquis segala sesuatu ditentukan secara kolektif –melibatkan semua anggota kelompok, dan tidak ada diskriminasi dalam pembagian makanan karena perbedaan seks, umur, dan keahlian. Bahkan yang paling ekstrem dalam penelitian Morgan belum dikenal istilah keluarga inti (ayah,Ibu, dan anak) garis keturunan ditentukan secara matrineal yaitu: garis ibu yang menggabungkan kelompok ibu, saudara laki-laki mereka dan anak-anak dari pihak ibu. Dia menegaskan perkembangan hubungan gender dari kebebasan seksual dan organisasi sosial yang berdasarkan pada peniruan kekerabatan melalui garis ibu, apa yang di sebutnya sebagai sebuah bentuk keluarga yang berdasarkan dengan pada siapa bisa melakukan hubungan seksual dan famili manakah yang membentuk satu kelompok sosial yang inti.

Pemeliharan binatang dan perkembangan dari pemeliharaan persediaan makanan menambah lebih besar akumulasi kekayaan dan hal ini mengarahkannya pada hubungan sosial yang baru yang merubah hubungan jender. Kepemilikan kekayaan mulai dirubah dari kepemilikan klan (turun-temurun) kepada kepemilikan pribadi dalam keluarga. Bentuk lain dari kepemilikan juga mengakumulasi (peralatan logam, barang-barang mewah) dan kebutuhan akan perkembangan tenaga manusia. Perkembangan kekayaan memberikan status yang lebih kepada keluarga dan memberikan rangsangan untuk menjatuhkan warisan matrilineal dalam rangka memapankan institusi patriarki. Engels berpendapat bahwa revolusi gender ini menggantikan dalam jaman pra sejarah., sebelum penciptaan tulisan, sehingga menjadi bagaimana dan kapan hal tersebut digantikan, belum diketahui. Tetapi hal itu bisa ditunjukkan secara etnografi.

Patriarkhi muncul pada saat pertanian mulai dianggap hal yang sangat penting untuk menghasilkan bahan makanan yang banyak dan untuk bisa bertahan hidup. Data-data arkeologi dan antropologi menunjukkan bahwa manusia mulai bertani ketika mereka terdesak oleh perubahan kondisi alam, di mana kondisi yang baru tidak lagi memberi mereka kemungkinan untuk bertahan hidup hanya dari berburu dan mengumpul bahan makanan.

Menurut data arkeologi, setelah manusia menemukan tempat atau lahan subur yang pas untuk dijadikan tempat tinggal dan juga untuk bercocok tanam dan mengumpulkan bahan makanan maka saat itulah kaum perempuan muncul sebagai juru selamat. Kaum perempuan menggunakan ketrampilan mereka untuk mengolah biji-bijian menjadi tanaman untuk mendapatkan bahan makanan bagi seluruh komunitas yang ada disekitarnya. Dan apa yang tadinya bahwa perempuan pada saat itu menganggap bahwa pertanian hanya sebagai pengisi waktu senggang kini menjadi sumber penghidupan utama seluruh masyarakat.

Setelah ditemukannya alat modern untuk bisa mempertahankan hidup dan untuk bisa memberi keuntungan penghasilan yang banyak kepada manusia, maka saat itulah muncul konsep kepemilikan pribadi, dimana pekerjaan yang biasanya dikerjakan secara bersama-sama, maka kini pekerjaan itu dikerjakan secara sendiri atau secara individual, ini karena semakin maju dan pesatnya pemikiran manusia pada saat itu dalam hal alat teknologi untuk menguasai lahan pertanian yang ada. Setelah Pertanian di perkenalkan, disinilah mulai terjadi perubahan-perubahan pada posisi kaum perempuan dan kaum laki-laki, khususnya pada pembagian peran.

Setelah Patriarkhi mulai menampakkan dirinya dengan dimulai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dari masa pertanian hingga masa sekarang, semakin diperjelas lagi perwujudannya dalam kehidupan kaum perempuan pada masa sekarang. Ini dibuktikan dengan mendominasinya peran laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai hal; dalam hal keluarga(Rumah tangga) laki-laki sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah keluarga sedangkan perempuan hanya ditempatkan dalam wilayah domestic saja yang cukup dengan melahirkan,merawat, memasak dan mengurus anak-anak dan keluarga. Dalam hal diskriminasi, perempuan sering mendapat batasan-batasan baik itu dalam hal pekerjaan maupun dalam masyarakat . Bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu bersifat emosional dan keibuan, perempuan itu tugasnya hanya bekerja dirumah mengurus rumah tangga, perempaun itu tidak perlu mendapat pendidikan yang tinggi karena nantinya juga akan pergi kedapur dan mengurus keluarga. Hal-hal yang seperti inilah yang merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempaun secara langsung, belum lagi atuaran-aturan atau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang diskriminasi terhadap perempuan.

(2) kapitalisme-Neoliberalisme

Kapitalisme telah melahirkan wujud barunya dengan bentuk Neo-Liberalisme. Dan ini akan menjadi pukulan untuk rakyat miskin, karena neo-liberalisme adalah cara baru untuk penguasaan secara langsung sumberdaya di negara terbelakang oleh penguasa-penguasa modal di negara-negara maju, ini berarti membuat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Ini dibuktikan dengan diambilnya paket-paket kebijakan yang di bawah oleh Neoliberalisme, berupa paket kebijakan perdagangan bebas, swastanisasi dan pemotongan subsidi, itu semuanya adalah paket-paket untuk membuat agar tuan-tuan modal bisa mengeruk sebesar-besarnya kekayaan yang ada di negara-negara miskin, bisa dengan leluasa menanamkan modal mereka, sehingga bisa berkembang biak, bisa bertambah kaya.

Kapitalisme telah melemparkan kaum perempuan, menjadi buruh-buruh upahan, menjadi bagian dari baling-baling industrialisasi, bersanding dengan mesin-mesin pabrik. Perempuan-perempuan dari golongan Rakyat miskin itu bagi kapitalisme adalah tenaga kerja yang melimpah dengan upah yang murah. Dari desa-desa, kaum perempuan miskin itu ditarik ke kota menjadi buruh-buruh pabrik, penjaga-penjaga toko, pelayan-pelayan restoran, pembantu orang-orang kaya, dan bahkan, karena kerja-kerja yang bermartabat tidak mereka dapatkan lagi, mereka bekerja menjadi pelacur-pelacur. Sedangkan perempuan-perempuan yang tidak tertampung untuk bekerja di Indonesia yang semakin sempit lapangan pekerjaanya, dibuang ke luar negeri, menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Di luar negeri, karena hanya tenaga yang mereka miliki, dengan sedikit ketrampilan untuk kerja-kerja rumah tangga, sering kali diperlakukan sewenang-wenang, dilucuti hak-hak sebagai manusia. Tidak ada yang bisa mengingkari lagi, sudah beribu-ribu TKW di Indonesia yang diperlakukan sewenang-wenang. Dari diperkosa, disiram dengan air panas, disetrika punggungnya, dipukul, bahkan ada yang sampai gila. Apakah kaum perempuan memang diciptakan untuk diperlakukan seperti itu?!

(3) Militerisme

Milititerisme lahir dari kebutuhan klas berkuasa untuk mempertahankan kekuasannya dengan alat-alat kekerasan. Dimanapun di dunia, militerisme menampilkan dirinya dalam aksi-aksi kekerasan terhadap perlawanan massif klas tertindas. Militer selalu muncul sebagai alat pemukul paling efektif untuk membuka periode kekuasaan yang berdasarkan kediktatoran. Sebagai alat pemukul, maka kita tentu menyadari bahwa militer dimana saja mengandal penyelesaian fisik, senjata dan kekerasan terhadap berbagai konflik-konflik social dan klas. Bagi gerakan perempuan, militer jelas merupakan hambatan sekaligus ancama paling nyata dalam kebebasan perempuan. Di daerah-daerah konflik, perempuan menjadi kelompok social yang paling rentan terhadap tindakan buruk militer, seperti: kekerasan fisik, pelecehan, perkosaan, kejahatan ekonomi, dan ancaman psikologis(trauma).

Di aceh seorang perempuan Diinterograsi oleh Kopassaus karena suaminya kabur dari tahanan dan lari ke daerah lain, karena di curigai suaminya telah bergabung oleh Milisi GAM, karena kopassus tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, maka mereka menelanjangi dan memperkosanya di antara tentara-tentara lain yang menonton sambil tertawa. Sesudah itu dikenakan kejutan listrik di telinga, hidung, buah dada dan vaginanya. Perempuan itu mengalami luka-luka yang hingga saat ini belum sembuh. Untuk membungkamnya, tentara itu memasukkan kertas ke mulutnya dan menggunakan tali untuk mencekiknya, dan akhirnya perempuan itu menjadi pingsan. Lima hari kemudian ia dibebaskan dan diperingatkan agar tidak menceritakan kepada siapapun tentang apa yang dialaminya. Pada saat Presiden Habibie menghapuskan status Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM), ia menceritakan kisahnya. Seorang serdadu Kopassus datang dan mengancamnya. Akibat penyiksaan yang dialaminya, ia mengalami luka-luka internal dan tidak memiliki uang sedikitpun untuk membayar pengobatannya. (Dikutip dari Laporan Special Rapporteur on Violence Against Women, Misi ke Indonesia dan Timor-Timur, 20 November – 4 Desember 1998, Nursyahbani K: 2002).

Dalam lapangan politik yang maskulin, sosok militer selalu menjadi sosok ideal dalam masyarakat patriarkhis. Tidak salah kalau kemudian, di beberapa kali proses pemilihan (RT,kepala desa, camat, bupati, DPR, gubernur, dan jabatan politik lainnya), kaum perempuan seakan terpinggirkan, buah dari pemikiran maskulin yang mengidealkan laki-laki gagah perkasa. Di tahun 1960-an, nampak jelas bahwa militer banyak menjadi hambatan dalam perkembangan gerakan perempuan. Kecenderungan militer untuk menutup ruang demokrasi juga bisa berdampak tertutupnya ruang aktivitas dan berorganisasi bagi kaum perempuan. Penghancuran Gerwani dan gerakan-gerakan perempuan progressif merupakan bentuk konkret bagaimana militerisme menghalalkan segala cara untuk menghancurkan gerakan revolusioner, termasuk yang digagas oleh kaum perempuan.

Bagaimana perempuan akan bangkit

Kesadaran bahwa penindasannya bersifat histories, hanya dalam fase-fase tertentu dalam perkembangan masyarakat, kaum perempuan mulai bangkit untuk mengorganisasikan perlawanan. Perempuan pertama yang menyadari hal ini adalah perempuan perancis yang terpicu oleh kebangkitan revolusi perancis menjungkirbalikkan tirani feudal. Revolusi telah menjadi ide dalam pergerakan perempuan. Revolusi perancis juga telah memberikan inspirasi kepada perempuan seluruh dunia soal persamaan hak, kebebasan, dan kemerdekaan. Kaum perempuan yang tergabung dalam sans-colluttes­- yang kebanyakan adalah tukang cuci, penjahit, pelayan toko, dan buruh melakukan demostrasi ke pusat kota paris, menuntut roti yang murah. Mereka perempuan-perempuan Jacobin, telah menjadi inspirasi kebangkitan bagi perempuan dibelahan dunia lain, untuk melawan dunia feudal yang merusak dan menyesatkan.

Di Indonesia, seiring dengan perluasan pengaruh politik etis dalam pergaulan kaum pribumi, telah muncul seorang perempuan dari keturunan aristocrat yang menentang patriarkhi dan sistem kolonialisme. Ya, R.A Kartini merupakan pelopor dalam kebangkitan kaum perempuan di Indonesia. lewat catatan-catatannya “habis gelap, terbitlah terang”, Kartini menjadi sosok perempuan yang berani menentang budaya dan sistem yang meminggirkan kaum perempuan. Selain Kartini, di Jawa Barat ada Dewi Sartika, rohana kudus, dan lain-lain. Organisasi perempuan mulai tumbuh dan menyebar, ibarat cendawan yang tumbuh dimusim hujan. Suasana negeri jajahan seperti Indonesia dimana semangat nasionalisme mulai tumbuh, telah menjadi ‘penyubur’ bagi tumbuh dan berkembannya gerakan perempuan. “Benih itu ditanam pada lahan yang subur”. Tidak mengherankan kalau memasuki awal abad ke-20, mulailah berdiri organisasi perempuan modern. Tahun 1912 lahirlah organisasi perempuan Putri Merdika [1]. Setelah organisasi ini berdiri, bermunculanlah organisasi perempuan yang lain. Di Garut pada tahun 1920 berdiri Wanodyo Oetomo, sementara itu pada tahun 1925 berdiri Puteri Serikat Isalam, dll[2]. Mungkin ada sedikit yang menarik disekitar tahun 1940, yaitu tentang berdirinya serikat buruh perempuan[3].

Dari gambaran diatas, kita bisa mengambil beberapa kesimpulan tentang pembangunan gerakan perempuan, yaitu: (1). Bahwa kesadaran perempuan akan pengertian mereka adalah second sex lahir dari perkembangan pendidikan dikalangan kaum perempuan. Perluasan pengaruh politik etis telah menggiring perempuan berpendidikan kepada sebuah kesadaran baru akan keberadaan kaumnya dalam sistem sosial. (2). Kesadaran untuk membentuk organisasi sebagai alat perjuangan modern. Kaum perempuan saat itu, sangat menyadari arti penting organisasi untuk menghimpun kaum perempuan dalam perjuangan. (3). Bahwa dalam menghancurkan bentuk sistem-sistem yang menindas perempuan, perjuangan perempuan tidak boleh terpisah dengan perjuangan rakyat terhisap.

(1). Organisasi perempuan

Pembangunan organisasi perempuan merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Organisasi akan mengambil peranan dalam pengorganisasian dan menghimpun kaum perempuan dalam platform perjuangan. Penghancuran gerakan perempuan tahun 1965-1966, kemudian terus diintensifkan dibawah rejim Orde Baru, juga disertai dengan pemberangusan organisas-organisasinya, terutama yang berideologi kiri. Tanpa sebuah organsiasi perjuangan akan mustahil menuju kemenangannya. Harus diakui sampai saat ini belum ada gerakan perempuan bersekala nasional, yang ada hanya gerakan perempuan lokal, itupun masih dengan ‘isi kepala’ yang berbeda-beda, sehingga gerakan yang ada masih terpecah-pecah. Watak organisasinyapun juga tidak boleh sektarian, dalam artian harus terlibat aktif dengan gerakan sektor rakyat tertindas lainya – buruh, tani, kaum miskin perkotaan, mahasiswa. Sekali lagi haruslah dipahami bahwa masalah penindasan terhadap perempuan, bukan masalah perempuan semata, tapi juga masalah dari rakyat tertindas lainya. Juga harus menjadi kesadaran, sudah saatnya membangun jaringan dengan gerakan perempuan yang ada di negara lain, apa yang dirasakan perempuan di Indonesia juga dirasakan oleh perempuan di negara lain.

Organisasi perempuan yang akan kita bangun harus terlibat seaktif-aktifnya dalam upaya perjuangan rakyat Indonesia, dengan mengupayakan integrasi semaksimal mungkin dengan kelompok-kelompok demokratik lainnya. Juga sebaliknya, dengan upaya tanpa ragu-ragu terus meyakinkan berbagai unsur dalam gerakan demokratik agar selalu memberikan dukungan dan solidaritas kepada perjuangan kaum perempuan, dalam bentuk apapun yang memungkinkan. Karena hanya dengan menggenapkan Revolusi Demokratiklah, kaum perempuan akan mendapatkan ruang politik yang jauh luas dan bebas, juga akses ekonomi yang relatif lebih baik, untuk memperjuangkan kesetaraan dan melenyapkan diskriminasi, baik diskriminasi gender, maupun kelas-kelas sosial.

(2). Gerakan politik perempuan

Organisasi perempuan mulai menjadi politis baru terlihat pada tahun 1920-an, ketika organisasi-organisasi politik yang besar seperti Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI) mempunyai divisi perempuan. Organisasi-organisasi perempuan ini mempunyai anggota yang bervariasi dalam latar belakang sosial dan politiknya. Cakupannya meliputi tingkat kelas menengah-bawah yang meluas. Isu-isu yang dilontarkan adalah seputar partisipasi perempuan dalam politik dan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan (decision-making). Pada suasana seperti inilah hadir Soekarno yang pada akhir tahun 1920-an mulai mengemuka sebagai tokoh nasionalis. Ia mulai terlibat dalam politik pada tahun 1926, dan satu tahun kemudian pada tahun 1927 ikut menggagas PNI. Ketika Kongres Ibu diadakan pertama kali pada tanggal 22 Desember 1928, Soekarno mengambil kesempatan ini untuk mengemukakan pendapatnya tentang perempuan.

Mau tidak mau, perjuangan perempuan harus merupakan perjuangan politik. Penindasan yang menindih kaum perempuan merupakan penindasan yang berlapis; sisa-sisa feudal dan sistem kapitalisme yang sekarang berkuasa. Hakekat perjuangan politik adalah bahwa pembebasan perempuan ataupun emansipasi perempuan, hanya akan dimungkinkan, kalau perempuan masuk dalam arena perjuangan politik. Harus diakui bahwa selama ini intervensi partai terhadap gerakan perempuan amat minim. Dalam prakteknya, selama bertahun-tahun kerja-kerja pengorganisasian, advokasi dan kampanye persoalan-persoalan perempuan telah menempatkan sejumlah LSM sebagai kiblat dan mainstream gerakan perempuan. Karenanya, berbagai isu yang menyangkut langsung kepentingan dan tubuh perempuan seperti persoalan aborsi, kebebasan untuk memakai dan memilih kontrasepsi, kekerasan dalam rumah tangga, pelacuran (bukan pekerja seks), dll., telah terdistorsi oleh kelompok-kelompok itu. Upaya memoderasi gerakan perempuan terus dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan terhadap tuntutan –tuntutan pergantian pemerintah, memagari aktivitasnya dari keterlibatan partai politik revolusioner semacam PRD, sampai mereduksi ekspresi perlawanan kaum perempuan yang seharusnya diradikalisasi dan didorong maju, menjadi sekedar ekspresi seni budaya yang kosong dan sunyi dari besarnya energi dan tenaga kaum perempuan sendiri untuk melawan.

Ulfa Ilyas, Aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eskot Jakarta Pusat

*****



[1] Tujuan organisasi ini memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, mendorong perempuan agar terampil di depan umum, membuang rasa ‘takut’ dan ‘mengangkat’ perempuan ke kedudukan yang sama seperti laki-laki, lebih lanjut lihat tulisan Saskia E.W, dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba Budaya, 1999.

[2] ibid

[3] Serikat buruh perempuan itu bernama Pekerja Perempuan Indonesia. Anggotanya terdiri dari pekerja di kantor, guru, buruh pabrik. Disamping program mereka latihan kerja, mereka juga melakukan perlawanan terhadap diskriminasi dalam kenaikan pankat dan upah. Lebih lanjut baca tulisan Saskia E.W, dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba Budaya, 1999.

Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Grameen Bank: (Salah satu) Cara Mengatasi Kemiskinan Perempuan


Oleh: Ulfa Ilyas

Kemiskinan adalah penyakit. Penyakit kemiskinan menyerang korbannya dengan tidak memberikan sedikitpun toleransi untuk memperpanjang hidup. Penyakit yang satu ini bisa memaksa penderitanya untuk melakukan tindakan-tindakan esktrem, termasuk hal-hal yang diluar batas kewajaran. Di Bekasi, Jawa Barat, Ny. Ismiati rela mengakhiri nyawa dua anaknya, masing –masing Fuadi Rasyid (4 bulan) dan Mutiara Yusuf (2 tahun), diduga kerena tekanan stress. Ny. Ismiati adalah potret perempuan miskin di Indonesia yang diperhadapkan dengan situasi harus menanggung beban ekonomi keluarganya. Di Indonesia, predikat kemiskinan masih melekat kuat ditengah-tengah kaum perempuan. Hal ini diperkuat fakta yang dirilis oleh Women Development Index bahwa jumlah perempuan miskin di Indonesia adalah antara 111 juta jiwa. Belum lagi dalam aspek pendidikan, perempuan jauh tertinggal dari laki-laki. Anak laki-laki yang tidak tamat sekolah dasar 5,34% dan anak perempuan 11,9%.

Di bangladesh, situasinya lebih mirip dengan Indonesia. Tahun 1974, Bangladesh mengalami bencana kelaparan. Di seluruh kota Islamabad terlihat pemandangan orang-orang miskin yang menyerupai tengkorak. Di desa-desa, hanya demi 40 sen dolar, kaum perempuan itu memanfatkan bobot tubuh dan gerakan kaki tanpa alas untuk mengirik padi selama 10 jam sehari! Bangladesh sendiri merupakan langganan banjir besar dan bencana alam yang menewaskan ribuan penduduknya. Banyak perempuan yang menjanda setelah banjir pergi, atau mereka ditinggal pergi oleh suaminya dengan meninggalkan ana-anak yang harus ditangung.

Kemunculan Grameen Bank

Grameen bank (Bank Pedesaan) mulai dirintis oleh Muhammad Yunus tahun 1976, peraih Nobel Perdamaian 2006, namun baru bisa berdiri secara formal pada tahun 1983. Grameen Bank sendiri merupakan bentuk eksperimen M. Yunus untuk menjawab kemiskinan yang melanda Bangladesh yang mayoritas perempuan. Perempuan Bangladesh yang bekerja sepanjang hari untuk mendapatkan 2 sen dolar, setelah di bagi dengan rentenir. Salah satu hambatan produktifitas perempuan di Bangladesh adalah keberadaan rentenir dan para mullah. Ketika muhammad Yunus memulai pekerjaannya, ia banyak mendapat penentangan dari kelompok para mullah yang menuduh grameen bank sebagai alat kristenisasi atau mengajak menjadi kafir.

Grameen Bank memberikan kredit-mikro kepada orang-orang miskin dengan syarat-syarat yang sangat mudah. Bagi Yunus, penyebab orang menjadi miskin bukan karena faktor kelamasan, akan tetapi kesempatan mereka untuk memiliki modal usaha dan menjalankannya. Yunus tidak takut para peminjam tersebut tidak akan mengembalikan pinjaman, karena prinsip grameen bank adalah kepemilikan bersama. Peminjam yang tidak mengembalikan pinjaman sama saja dengan menghilangkan kesempatan untuk mendapat pinjaman berikutnya. Sehingga, orang-orang miskin yang memperoleh pinjaman dari grameen bank memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan pinjaman tersebut, demi kelanjutan program ini. Penelitian Lutfun Nahar Khan Osmani (1998) untuk desertasi doktornya di Fakultas Ekonomi Oueen’s University, Belfast, memperlihatkan, perempuan penerima kredit Grameen meningkat secara nyata daya tawarnya di dalam keluarga. Itu bila diukur dari perasaan terhadap besarnya sumbangan pada sumber daya keluarga dan posisi status quo, dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut di dalam kredit Grameen.

Dari Bangladesh untuk Perempuan Indonesia.

Kemiskinan perempuan mencapai lebih dari setengah jumlah populasi, dan mayoritas di antara mereka menetap dipedesaan. Berdasarkan penelitian komnas perempuan, kemiskinan keluarga turut memberikan andil kepada tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga. Akibat jeratan kemiskinan, sekitar 700 ribu perempuan Indonesia dipekerjakan sebagai PSK di berbagai negara, terutama Malaysia dan Singapura. Perempuan di Indonesia memang paling rentan dari kemiskinan, mengingat struktur sosial yang masih mengebiri hak-hak kaum perempuan terlibat dalam lapangan ekonomi. Belum lagi tingkat pendidikan perempuan Indonesia yang menyebabkan mereka sulit terserap dalam lapangan kerja.

Perempuan harus diberdayakan dengan memanfaatkan potensi yang dilikinya. Banyak kasus menunjukkan bahwa jika perempuan diberikan kesempatan dan akses modal, mereka akan sanggup memberdayakan ekonominya. Di Indonesia, banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, mereka umumnya membuka warung makan, jual kue keliling, buka kios, hingga home industri. Umumnya, perempuan-perempuan tersebut kesulitan dalam mengakses modal dari bank umum karena persoalan syarat dan kriteria yang berat. Pembangunan Bank Model Grameen Bank bisa menjadi solusi bagi perempuan Indonesia. Kemungkinan di Indonesia bisa dilakukan penyesuaian dengan lebih sfesifik Bank Perempuan, yang menyalurkan kredit-mikro khusus bagi perempuan miskin.

*****

Ulfa Ilyas: Pemerhati masalah perempuan, aktifis Bidang Perempuan –Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Staff Sekretariat Nasional DPP Papernas. Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative

Apa dan Bagaimana Free Trade Agreement(FTA)?

Kamis, 2007 Juli 26

Oleh: Ulfa Ilyas

Perpindahan barang/komoditi antar suatu bangsa dengan bangsa lainnya bukan hal yang baru tapi sudah cukaup lama. Jauh sebelumnya bangsa persia, cycilia, ataupun romawi sudah mengenal jalur-jalur perdagangan dengan bangsa lain. Penganjur neoliberal di indonesia yang tergabung dalam friedrich Ebert Stiftung sering mengungkapkan bahwa interaksi dalam perdagangan antara bangsa adalah gejala yang lama dan sudah terjalin sejak ratusan tahun yang lalu. Namun pertukaran dan perdagangan komoditi semakin massif dan intensif setelah memasuki merkantilisme, raja/bangsawan berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan akumulasi kekaayaan dari merkantilisme. Lahirlah kongsi-kongsi dagang seperti VOC(19 bangsawan belanda), EIC(kerajaan Inggris), dan lain-lain.

Kapitalisme telah mendorong pasar tercipta dan terbuka seluas-luasnya, menyingkirkan penghambat-penghambatnya; kerajaan, tahtasuci, dan pemikiran kolot. Adam Smith menyimpulkan nilai-nilai yang dianggapnya merupakan pondasi teori pasar bebas: (1) kebutuhan manusia tidak terbatas; (2) sumber-sumber ekonomi yang relatif terbatas; dan (3) pengejaran pemenuhan maksimal kebutuhan individu (utility maximization of self interest) yang relatif tidak terbatas. Dari tiga nilai dasar ini, maka perebutan dan pertarungan untuk pemenuhan kebutuhan manusia mendapatkan pembenarannya. Dari konsepsi ini lahir pembenaran untuk persaingan dalam pasar; antar produsen, antar konsumena, dan antar produsen dan konsumen.

Dalam strategi perdagangan bebas dikenal tiga pintu yang sebenarnya tujuannya sama; (1) Multilateral yang melibatkan banyak negara dari berbagai kawasan; disini kuncinya dipegang oleh WTO, (2). Regional; perjanjian perdagangan bebas hanya dalam kawasan tertentu oleh beberapa negara di kawasan itu seperti AFTA, dan yang ke(3). Bilateral antara dua negara yang sepakat perjanjian perdagangan bebas seperti FTA-Indonesaia-AS. Ketiganya menjadi kunci yang dimainkan oleh pemilik modal asing dan negara imperialis untuk menguasai perekonomian negara dunia ketiga(baca; berkembang). Setelah perjanjian perdagangan bebas gagal (baca; macet) di putaran Doha maka jalan perdagangan regional dan bilateral semakin laris dan merebak. AS sebagai superpower imperialisme mulai melihat bahwa sangat sulit melihat kemajuan perdagangan bebas global(multilateral) lewat WTO karena semakin banyak negara yang berposisi mandiri dan kritik umum terhadap kegagalan WTO. AS kemudian menekan semua negara-negara yang menjalin hubungan bilateral dengannya untuk merundingkan kesepakatan perjanjian perdagangan bebasnya. AS saangat berkepentingan dengan akses sumber bahan baku dan sektor jasa negara-negara berkembang, dan sebagai konpensasinya membuka(memberi kuota khusus) untuk produk impor pertanian yang dilindungi di AS.

Langkah AS, ini juga di ikuti oleh Korea Selatan, China, Jepang dengan membuka negosiasi FTA dengan negara-negara Asia dan kelompok regional seperti ASEAN. Cina cukup agresip mengejar FTA ini. Ekonomi Cina yang tumbuh dengan laju 9% setahun sangat membutuhkan bahan mentah dan energi, juga beberapa produk pertanian dan kehutanan, yang ia ingin pastikan dengan FTA ini. Maka di Indonesia kita rasakan masuknya Cina secara cukup agresip di bidang energi (mengusahakan Kontrak Bagi Hasil di bidang migas). Lewat FTA dengan Asean dan negara anggotanya maka Cina juga berusaha untuk “mengatur” (manage) perdagangan bilateralnya agar tidak terlalu mencemaskan mitranya. (M. Sadli , Kompas,25/5/2005).

BFTA boleh dikatakan manuver politik dari negara-negara imperialis untuk menutupi kenyataan buruknya perdagangan bebas global(multilateral) yang di komandoi WTO. Kritik meluas terhadap intervensi dan dominasi negara-negara imperialis kuat seperti AS, Jepang, Inggris, dan lain-lain dalam pengambilan kebijakan perdagangan WTO. Oleh beberapa pemimpin negara berkembang mulai merasa ketidakberesan dalam mekanisme yang diinginkan WTO seperti pembukaan pasar dalam negeri negara berkembang sedangkan disisi lain AS dan Eropa masih menjalankan proteksionisme dan subsidi pertanian.

Dampak yang dtimbulkan oleh FTA juga tidak jauh beda dengan konsekuensi dari perjanjian multilateral ala WTO; Menurut Lutfiyah Hanim, Program Officer IGJ, “Karakteristik dasar dari kesepakatan perdagangan bebas, khususnya dengan AS, adalah WTO-plus. Maksudnya, tingkat liberalisasi yang dilakukan lebih tinggi dibandingkan liberalisasi yang dilakukan di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization –WTO).” . selain itu dampak dari pemaksaan pengakuan hak paten terhadap tumbuhan/tanaman misalnya dapat berdampak pada petani susah mendapatkan akses terhadap benih atau sumber daya tersebut karena semua telah di monopoli oleh perusahaan asing yang telah memiliki paten tersebut. di Thailand menopoli hak paten oleh perusahaan AS dalam perjanjian BFTA-US-Thailand telah menyebabkan konsumen tidak mampu menjangkau harga-harga obat-obatan. Masalah terpenting dari FTA ini, hanya terletak pada persoalan kedok imperialisme mendekati dan menekan pemerintahan dunia ketiga. Bayangkan, pemerintahan seperti SBY-Kalla yang tidak memiliki wibawa politik di mata internasional harus melakukan negosiasi/perundingan dengan Bush---yang merupakan mandornya, yang terjadi adalah penyerahan semua kedaulatan nasional terhadap sumber kekayaan alam kepada imperialis. BFTA indonesia-singapura, sangat meruagikan indonesia dari segi politik(keamanan) dan ekonomi.

Penulis adalah aktivis Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) Jakarta Pusat.

Read More>> PEREMPUAN KIRI, Media Alternative